Penulis : Cornelius Eko
JAKARTA–MI: Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) mengakui gagal dalam menanggulangi masalah penyebaran HIV/AIDS di Indonesia. Terhitung sejak krisis moneter terjadi di Tanah Air pada tahun 1998 berbeda dengan sejumlah negara berkembang lain, penderita HIV/AIDS di Indonesia malah terus bertambah dari tahun ke tahun hingga kini.

Mengutip data Departemen Kesehatan terbaru. KPAN melaporkan, sampai akhir Juni 2008 terdapat penambahan kasus AIDS sejumlah 2947 orang pada tahun 2007. Dan terdapat 1546 kasus pada 4 bulan pertama tahun 2008.

Sekretaris KPAN Dr Nafsiah Mboy, SpA memaparkan, hingga kini, situasi kumulatif jumlah kasus AIDS di Tanah Air sudah mencapai 12.686 orang. Informasi jumlah ini dihimpun dari 32 propinsi dari 15 kabupaten/kota.

Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Papua, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatra utara, Sulawesi Selatan dan Kepulauan Riau. “Secara global kasus HIV/AIDS sudah menunjukan tanda-tanda stabil, namun di Indonesia epidemik masih terus berlangsung. Bahkan dewasa ini tercatat sebagai negara dengan laju epidemik tercepat di Asia,” tandas Nafsiah, pada acara Peluncuran laporan Epidemi AIDS Global tahun 2008 di Jakarta, Rabu (13/8).

Menurut hasil survei terpadu HIV dan perilaku tahun 2007, prevalensi di kalangan populasi kunci yang berisiko ketularan telah mencapai 9,5% di kalangan wanita penjaja seks (WPS). Sebanyak 5,2% di kalangan lelaki yang berhubungan seks dnegan sesama lelaki, dan 52,4% pada pengguna Napza suntik.

Di Papua, tambah Nafsiah, prevalensi HIV di masyarakat umum (dewasa) mencapai 2,4%. “Proyeksi KPAN dan Depkes, infeksi HIV baru di masa datang akan lebih benyak terjadi melalui transmisi seksual,” ujarnya. Nafsiah menambahkan, dengan situasi seperti ini, kasus HIV/AIDS di Tanah Air akan terus meningkat hingga tahun 2020, dengan rata-rata per tambahan 5% penderita baru per tahun.

Salah satu kendala utama dalam penganannan HIV/AIDS di Tanah Air adalah resistensi masyarakat terhadap sosialisasi kondom, terapi ruwatan matadon dan beberapa program lainya yang dinilai bertentangan dengan nilai kultur ketimuran.

Terkait kontinuitas penggunaan kondom pada wanita penjaja seks, Nafsiah mengakui, pihaknya gagal dalam mempromosikan upaya ini. Jumlah WSP yang menggunakan kondom selama 3 bulan pada tahun 2004, jumlahnya masih sama pada tahun 2007, yakni hanya 36%.

Namun penggunaan kondom pada kaum laki-laki berisiko seperti pelaut, pengemudi truk, sopir taksi, dan ojek serta pekerja pelabuhan mengalami peningkatan. Jumlah klinik yang melayani terapi metadon pun bertambah. (Tlc/OL-03)