PROFIL KETUA TERPILIH GP FARMASI JAWA BARAT PERIODE 2008 – 2012:
Nama : DEDY WIDJAJA DHARMA
Tempat, Tanggal Lahir : BANDUNG, 23 SEPTEMBER 1948
Alamat : JLN. SUKAJADI No. 178 BANDUNG
Profesi : PENGUSAHA
Aktifitas Berorganisasi : APINDO JABAR (Ketua Umum), PPIC JABAR (Ketua Umum),
HIPOSINDO JABAR (Ketua Umum), KPBSMON (Ketua
Umum), KADIN JABAR (Ketua Komite), ICBC
(Pembina), DEWAN PENGUPAHAN KOTA (Anggota),
FORUM TRIPATRIT JABAR (Anggota), API (Penasehat),

GAMMA (Ketua Bidang), THINK-TANK CAFÉ (Host).

DEDY WIDJAJA…… SIAPA, APA, MENGAPA DAN BAGAIMANA?

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?
DEDY : Wah, mulai dari mana ya? Oke, saya adalah suami dari seorang istri, ayah dari 3 orang anak dan 2 orang menantu serta kakek dari 3 orang cucu. Saat ini saya mengelola beberapa Bidang Usaha, salah satunya bergerak di bidang farmasi yaitu PT. Binangkit Raya. Selain itu sudah sejak lama saya aktif di berbagai Organisasi. Cukup?

• Dilihat dari cukup banyaknya Organisasi yang Anda ikuti, rupanya Anda sangat senang berorganisasi ya?
DEDY : Ya, betul sekali. Saya sangat antusias berorganisasi.

Hal apa yang membuat Anda begitu tertarik untuk berkecimpung di Organisasi?
DEDY : Sebenarnya banyak hal yang membuat saya tertarik. Pertama, di Organisasi saya bertemu begitu banyak orang dengan berbagai karakter dan backround secara intens, hal ini melatih sensitifitas saya dalam bersosialisasi. Kedua, di Organisasi saya dapat belajar memimpin, dipimpin dan terpimpin. Menjadi yang memimpin adalah seni tersendiri untuk bisa menjadi patron sekaligus dirigen dalam harmonisasi Organisasi. Menjadi yang dipimpin juga memerlukan ketaatan terhadap aturan, toleransi terhadap perbedaan dan sikap sportif dalam menyikapi kompetisi. Sedangkan menjadi yang terpimpin sangat memerlukan kedisiplinan, kerendahatian dan loyalitas.

Anda padatnya aktifitas Anda, apakah Anda yakin dapat fokus di GP Farmasi Jabar seandainya Anda terpilih sebagai Ketua periode 2008 – 2012 berikut? Lantas apa sih makna dan syarat menjadi seorang Ketua yang ideal bagi Anda?
DEDY : Begini, saya bukan tipe one man show leader. Dan ini bukan show business di mana saya adalah bintang utamanya. Selama ini, saya sudah menerapkan team work management, bukan saja di Organisasi tapi juga di Perusahaan-Perusahaan yang saya kelola. Apabila saya bertipe one man show, maka jangankan dengan aktifitas yang begini banyak, memimpin satu Perusahaan pun saya pasti tidak sanggup.
Mengenai makna, perlu saya tegaskan di sini bahwa ada perbedaan krusial dalam arti kata “Kepala/Ketua” dengan “Pemimpin”. Kepala/Ketua lebih bersifat jabatan atau fisik, karena itu kita sering
mendengar istilah “ketua non aktif”. Berbeda dengan makna Pemimpin, Pemimpin lebih bersifat mental,

karakter dan tanggung jawab, tidak pernah kita mendengar kata “pemimpin non aktif” kan?. Nah, di GP Farmasi Jabar, saya ingin menjadi Ketua yang memiliki mental, karakter dan tanggung jawab sebagai Pemimpin.
Anda tentunya sudah sangat mengerti bahwa saat ini tingkat kompleksitas masalah dan tantangan yang dihadapi sebuah organisasi atau perusahaan semakin tinggi. Untuk itu figur yang jujur, cerdas, optimis, berani, mau mendengar, mau belajar dan memiliki network luas serta kecakapan manajerial untuk dapat menjalankan team work management adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang Pemimpin.
Selain itu, bagi saya Pemimpin adalah seseorang yang bersedia menjadi Pelayan yang memiliki loyalitas untuk mengabdi, Prosesor yang memiliki tingkat kecerdasan memadai sekaligus Motor yang memiliki ketangguhan dan kekuatan untuk mendorong laju Organisasi ke arah yang lebih baik.
Ngomong-ngomong soal pimpin memimpin dan team work management, saya punya contoh menarik dan ini adalah cerita yang nyata terjadi dalam keseharian saya. Di beberapa Organisasi dan Perusahaan memang saya adalah Pemimpin, tapi di rumah dan lingkungan tempat saya tinggal, Istri saya Yayang lebih dominan dalam mengambil fungsi kepemimpinan, selain menjadi seorang “CEO” dalam rumah tangga saya, dia juga seorang Ketua Rukun Tetangga, dan saya bangga dengan hal itu.

Masalah krusial apa yang Anda lihat dalam kondisi nyata kesehatan Masyarakat Jawa Barat?
DEDY : Ini menyedihkan, selama masih banyak Saudara-Saudara kita yang terpaksa “memilih untuk tetap sakit”, karena mereka tidak memiliki cukup uang untuk membeli obat, maka itulah masalah krusial yang kita hadapi. Mengapa bisa begitu? Karena image obat di benak mereka sudah terlanjur “mahal’ dan mereka kurang memiliki akses informasi dan fasilitas yang memadai ke produk-produk obat berharga terjangkau.
Produk-produk farmasi tidak dapat diposisikan hanya sebagai business commodities. Pemerintah, Produsen dan Distributor Obat harus menambahkan sebuah nilai penting dalam produk obat, yaitu Human Values atau Nilai-Nilai Kemanusiaan. Orang yang sakit tidak boleh diposisikan dalam situasi tawar menawar. Mereka harus memperoleh pengobatan, dan kita sebagai bagian dari Komunitas Farmasi berhak menuntut Pemerintah untuk memangkas dan menumpas habis mafia birokrasi dan regulasi dalam bisnis farmasi sehingga jalur distribusi obat dari Produsen ke Masyarakat dapat dibuat sesingkat dan setransparan mungkin dengan demikian harga-harga obat menjadi lebih bersahabat sesuai kemampuan Masyarakat Jawa Barat pada umumnya.

Mengapa Anda tertarik untuk berkiprah di GP Farmasi Jabar?
DEDY : Saya adalah tipe pekerja yang sangat praktikal. Ketika saya melihat sesuatu masalah dan saya memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya, saya tidak akan diam atau menunggu sampai ada orang lain yang mau turun tangan. Demikian pula ketika saya prihatin melihat kondisi kesehatan sebagian besar Saudara-Saudara kita di sini, saat itu juga saya langsung berpikir bahwa bergabung dengan GP Farmasi Jabar dapat merupakan langkah taktis dan strategis untuk secara langsung memperbaiki kondisi tersebut.
Anda tahu, Gabungan Perusahaan Farmasi Jawa Barat adalah Komunitas Farmasi terbesar di Jawa Barat, memiliki 13 Cabang: Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Cimahi, Sukabumi, Cianjur, Depok, Majalengka, Bogor, Subang, Garut, Cirebon, Bekasi dan Tasikmalaya. Membawahi 4 Bidang Usaha yaitu Industri Farmasi dan Obat-Obatan, Apotek, Toko Obat dan Pedagang Besar Farmasi. Mereka semua bukan figuran atau bualan kosong, mereka adalah Motor Utama yang berpotensi luar biasa besar milik GP Farmasi Jabar yang memiliki tugas utama melayani kebutuhan obat dan pengobatan untuk kira-kira 41 juta jiwa Penduduk Jawa Barat, Propinsi terbesar jumlah penduduknya di Indonesia.
Menurut Pusat Data Statistik Indonesia, CDR (Crude Death Rate) / AKK (Angka Kematian Kasar) di Jawa Barat adalah 6,67. Artinya terdapat 6 sampai dengan 7 kematian per 1000 penduduk per tahunnya.
Dengan kata lain terdapat 266.800 kasus kematian per tahun atau 731 kasus kematian per hari di Jabar!
Kita andaikan 50%-nya adalah kematian akibat sakit, berarti ada sekitar 365 orang setiap hari atau 15 sampai dengan 16 orang per jam di Jawa Barat yang meninggal karena sakit!
Ingat Bung, ini bukan sekadar ilustrasi statistik yang berupa informasi angka-angka mati, rugi atau laba. Kita sedang berbicara mengenai nyawa manusia! Termasuk di dalamnya Keluarga dan orang-orang yang kita kenal dan cintai….
Kenyataan tersebut ini yang membuat saya sangat terpanggil untuk dapat membalas seluruh budi baik yang sudah dan sedang saya terima dari Tanah Kelahiran saya di Jawa Barat dengan cara bergabung dengan GP Farmasi Jabar, berkomitmen dalam upaya Menuju Jabar Sehat.

Apabila Anda terpilih sebagai Ketua GP Farmasi Jabar, apa Visi, Misi dan Program Kerja Anda?
DEDY : Ha… ha… pertanyaan Anda ini adalah pertanyaan yang merupakan template question yang sepertinya wajib untuk ditanyakan kepada setiap kandidat ketua di Indonesia, namun ironisnya sering dijawab muluk-muluk oleh sang kandidat tanpa realisasi yang jelas ketika yang bersangkutan sudah menjabat. Doakan, mudah-mudahan saya tidak seperti itu ya.
Sebenarnya ada beberapa hal teknis menyangkut Misi dan Program Kerja yang harus saya koordinasikan dan konsolidasikan dengan Pengurus apabila saya dipercaya sebagai Ketua GP Farmasi Jabar 2008-2012. Namun saya akan coba menjabarkan sesingkat mungkin Visi, Misi dan Program Kerja yang saya miliki sekarang:
Visi : Menuju Jabar Sehat
Misi :
1. Membina seluruh Anggota GP Farmasi Jabar sehingga dapat menjadi lebih solid dan berani menjadi reformator terdepan dalam pembenahan Bisnis Farmasi di Jawa Barat.
2. Memberikan full back up dan/atau perlindungan advokasi bagi seluruh Anggota, terutama apabila ada Anggota yang mengalami masalah padahal yang bersangkutan ada dalam posisi benar secara Hukum.
3. Mengurangi AKK (Angka Kematian Kasar) di Jawa Barat terutama karena sakit, dengan cara menciptakan kondisi Industri Farmasi yang sehat dari hulu sampai hilir sehingga produk-produknya dapat dengan mudah dijangkau oleh Masyarakat Jawa Barat baik dalam hal suplai, distribusi dan harga.
4. Menciptakan iklim usaha yang kondunsif bagi para Produsen Obat, sehingga mereka dapat menjadi lebih eksis dan kompetitif di pasar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara “menekan” Pemerintah agar dapat menetapkan regulasi-regulasi yang menguntungkan bagi para Pelaku Industri Obat sekaligus para Konsumennya.
5. Memiliki jaringan atau networking dengan banyak Pihak berwujud kemitraan.
Program Kerja, yang tentunya sangat memerlukan dukungan dan partisipasi seluruh Anggota:
1. Segera menampung aspirasi seluruh Anggota dan membahas pemetaan situasi serta masalah yang dihadapi GP Farmasi Jabar saat ini untuk kemudian secepat mungkin mengadakan koordinasi dan konsolidasi taktis startegis Organisasi dengan seluruh Anggota.
2. Mewujudkan visi “Menuju Jabar Sehat” dengan langkah-langkah realistis berupa pengembangan Jaringan Kios Sehat yang diharapkan dapat mendistribusikan obat-obat dengan harga yang bersahabat dan menjangkau pelosok-pelosok desa di Jawa Barat.
3. Berkoordinasi dengan Pemerintah berikut seluruh Departemen terkait dan Aparatnya selaku Regulator untuk menciptakan dan secara konsisten menjaga iklim bisnis industri farmasi yang fair di Jawa Barat.
4. Membangun kemitraan berprinsip mutual benefit partnership dengan Pihak-Pihak terkait.

Menurut Anda, seberapa penting peran serta Pemerintah dalam hal ini?
DEDY : Jelas sangat penting dan vital. Aktifitas saya di sebagai pengusaha dan aktivis di berbagai Organisasi membuat saya memiliki banyak sekali Rekan yang duduk di jajaran Birokrasi. Dari Legislatif, Eksekutif, Yudikatif. Dari Sipil, Militer, Polisi. Dari mulai level pengambil keputusan sampai pelaksana.
Ada beberapa anggapan yang sudah terlanjur salah dari masing-masing Pihak sehingga Pemerintah sering terlihat berseberangan dengan Pengusaha.
Pengusaha sering dicap sebagai golongan oportunis yang hanya beorientasi profit. Sebaliknya dari kaca

mata Pengusaha, Pemerintah seringkali diposisikan sebagai golongan yang sering mencari-cari kesalahan, tidak mau peduli dengan kesulitan dan selalu mengeluarkan keputusan / peraturan yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan Pengusaha dan dunia usaha.
Akhirnya terjadi suatu budaya salah kaprah, Pemerintah tidak memiliki percaya diri dalam berkomunikasi dengan Pengusaha kalau tidak menunjukkan “kekakuan” dan “keangkerannya” dan para Pengusaha juga cenderung tidak percaya diri dalam berkomunikasi dengan Pemerintah kalau tidak memberikan “upeti”. Itu kenyataan ironis yang sudah membudaya di Negara ini dan tidak perlu ditutup-tutupi, namun harus dirubah. Kalau tidak, kita tidak akan pernah bisa menghasilkan produk yang kompetitif di pasar karena terlalu banyak biaya siluman yang harus kita tambahkan di harga dasar produk kita.
Padahal selain memang harus berorientasi pada keuntungan wajar dan pandai memanfaatkan kesempatan secara positif, Pengusaha juga memiliki tanggung jawab sosial yang sangat tinggi. Tetap berusaha menjalankan bisnis di tengah iklim usaha yang tidak kondunsif seperti sekarang, merupakan wujud kepedulian sosial yang sangat tinggi dari para Pengusaha. Dapat dibayangkan, berapa juta orang yang akan menganggur dan berapa besar pendapatan Negara dari Sektor Pajak yang akan hilang, apabila semua Pengusaha “menyerah” dengan keadaan. Di sisi yang lain, saya yakin masih banyak Birokrat kita yang memilki tanggung jawab besar selaku Abdi Masyarakat. Oleh karena itu, saya dengan GP Farmasi Jabar bertekad untuk membangun sinergi yang kokoh antara Pemerintah khususnya Pemerintah Jawa Barat dan Komunitas Farmasi Jawa Barat, dengan cara meluruskan persepsi yang salah dari kedua belah Pihak dan memutus sekaligus memusnahkan lingkaran setan yang selama ini terjadi sehingga kita dapat fokus berusaha dan berprestasi dengan baik dalam situasi usaha yang sehat tanpa ada rasa takut akan masa depan yang tidak pasti.

Kelihatannya Anda pribadi yang sangat idealis ya?
DEDY : Ha… ha… ha… Tidak seekstrim itu saya kira. Saya adalah seorang idealis namun juga sangat realistis. Seperti membangun sebuah gedung, cita-cita dan tujuan adalah ibarat fondasi dan strukturnya. Harus idealis, harus sesuai dengan perhitungan yang tepat, kalau tidak nasibnya akan sama seperti kebanyakan SD Inpres, begitu gunting pita, beberapa bulan kemudian ambruk. Namun gedung sekokoh apa pun, tetap harus memiliki disain arsitekrural yang indah dilihat. Itu artinya “kekakuan” sebuah idealisme dapat dikemas dalam fleksibilitas yang bertanggung jawab dalam pelaksanaannya.
Saya sedih melihat sekarang ini kata “idealis” cenderung diasosiasikan sebagai hal yang kuno dan kaku, padahal kalau kita bisa cerdas dalam mengusung idealisme, maka hal itu akan terasa sangat moderat dan fleksibel. AD/ART setiap Organisasi pasti dan harus idealis karena di situ ada dasar, cita-cita dan tujuan. Namun dalam pelaksanaannya, kita sebaiknya tahu kapan kita harus realistis dan luwes selama hal-hal tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan tidak merugikan kepentingan dan integritas Organisasi.
Sikap kaku yang berlebihan seringkali membuat Organisasi menjadi tidak berkembang, demikian juga dengan sikap kompromistis yang dilakukan membabi buta dan tidak bertanggung jawab, sering berujung pada penyimpangan yang pada akhirnya merugikan Organisasi. Jadi kita harus arif dalam berpikir, santun dalam bersikap dan bijak dalam bertindak.

Pernahkah Anda gagal atau setidaknya merasa tidak puas dalam sesuatu hal? Dan bagaimana Anda menyikapi hal tersebut?
DEDY : Waaahh… jelas pernah, sering malah. Orang yang tidak pernah gagal berarti dia tidak melakukan apa-apa. Untuk saya kegagalan itu bukan “hasil”, tapi “proses”. Sedangkan ketidakpuasan yang proporsional adalah inspirasi utama dalam hidup seseorang untuk menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya. Saya
yang sekarang Anda lihat, adalah hasil tempaan dari begitu banyak kegagalan dan tekad saya untuk mengabdi di GP Farmasi Jabar adalah wujud ketidakpuasan saya terhadap sesuatu yang seharusnya
dapat lebih saya perbuat untuk kemajuan Rekan-Rekan di Komunitas Farmasi dan Masyarakat Jawa Barat secara luas.

Cara saya menyikapi kegagalan? Mudah saja, kalau kegagalan itu saya ibaratkan sebagai sesuatu yang negatif, maka untuk memperbaikinya saya harus bersikap positif. Pertama, introspeksi. Kedua, mencari tahu sebab dari kegagalan tersebut. Ketiga, memotivasi diri dan segera melakukan perbaikan. Anda ingat Bill Gates kan? Nah, kalau dia tidak gagal dalam studinya, mungkin Microsoft tidak akan pernah ada.

Apa yang paling penting dan berharga dalam hidup Anda serta apa yang membuat Anda bahagia?
DEDY : Saya sangat percaya pada apa yang disebut dengan Family Values atau Nilai-Nilai Keluarga. Hal yang paling penting dan berharga dalam hidup saya adalah Keluarga. Sebab dari situlah saya berasal dan dapat meraih apa yang saya cita-citakan. Doa restu Ibu saya, dorongan, kasih dan pengertian dari Istri saya Yayang, Anak-Anak saya Juliet, Jane dan Felix , Menantu saya Kevin dan Evan serta Cucu-Cucu saya Key Key, Sion dan Emily adalah sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh apa pun dalam hidup ini. Berikutnya adalah seluruh Famili, Sahabat, Teman dan Kolega, baik dalam kehidupan korporasi, organisasi dan sosial di mana saya berkecimpung di dalamnya.
Mereka adalah orang-orang yang luar biasa hebat, tempat saya banyak berbagi, belajar, bertanya, berkeluh kesah dan bersandar. Mereka semua adalah Karunia Tuhan yang begitu nyata dalam hidup saya.
Hal yang paling membuat saya bersyukur dan berbahagia adalah ketika saya dapat melakukan sesuatu yang dapat membahagiakan dan membuat orang lain menjadi lebih baik. Karena di situ lah letak life values yang kelak harus saya pertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta.

Apa motto hidup Anda?
DEDY : Bersiaplah selalu untuk beradaptasi dengan perubahan, sebab itulah hidup….

Ada pesan khusus untuk para Pemilih di GP Farmasi Jabar?
DEDY : Saya, Dedy Widjaja hanyalah seorang biasa yang terbiasa hidup dari Kepercayaan. Apabila Rekan-Rekan di GP Farmasi Jabar percaya untuk memilih saya sebagai Pemimpin, saya berjanji untuk memegang teguh Kepercayaan tersebut. Dan dengan doa restu serta dukungan penuh dari Rekan-Rekan semua, kita akan maju bersama dalam Organisasi ini untuk mengabdi kepada Masyarakat Jawa Barat. Terima kasih.