Jakarta (ANTARA News) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta para pengusaha di bidang farmasi agar ikut menyukseskan program obat murah berkualitas yang sedang dilaksanakan pemerintah.

“Sukseskan program obat murah berkualitas. Saya minta saudara-saudara selain melaksanakan kegiatan bisnis, juga melakukan kegiatan sosial kemanusiaan yang pro rakyat,” kata Presiden Yudhoyono ketika membuka Musyawarah Nasional Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia ke-13 di Istana Negara, Jakarta, Jumat.

Selain dihadiri para pengusaha farmasi, acara tersebut juga dihadiri Ketua Umum GP Farmasi Indonesia Anthony Ch Soenaryo, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.

Presiden mengingatkan para pengusaha, khususnya di bidang farmasi, agar terus menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat.

“Lanjutkan, kalau mungkin ditingkatkan serta utamakan segmen masyarakat dan komunitas masyarakat yang rawan terhadap ancaman penyakit,” katanya.

Pemerintah, katanya, berkomitmen agar industri farmasi bisa berkembangnya, namun tidak mengabaikan dimensi sosial kemanusian.

“Sukseskan program pemerintah dan pastikan ketersediaan obat yang terjangkau oleh masyarakat. Obat murah dan berkualitas, obat serba Rp1.000, menurut saya adalah salah satu upaya kita untuk melaksanakan program prorakyat,” katanya.

Kepala Negara mengharapkan agar ada kebijakan harga obat-obatan yang sama di seluruh Tanah Air.

Dari sisi perpajakan, katanya, persoalan insentif pajak bisa dibicarakan agar perusahaan farmasi bisa terus memproduksi obat yang murah untuk masyarakat.

Untuk itu, Presiden meminta sejumlah menteri seperti Menkes, Menperin, Mendag, Menneg BUMN, dan Menkeu untuk duduk bersama GP Farmasi merumuskan kebijaksanaan atau `policy` yang tepat, sehingga tujuan di bidang farmasi, baik dari sisi bisnis dan sosial bisa tercapai.

Presiden dalam kesempatan itu juga mengharapkan industri farmasi dapat mengembangkan penelitian dan inovasi teknologi untuk bisa memproduksi obat-obatan yang makin berkualitas, karena Indonesia masih memiliki ancaman terhadap penyakit menular.

“Saya juga mendorong industri farmasi untuk meningkatkan kualitasnya di mancanegara. Rebut peluang agar bisa segera masuk `mainstream` usaha farmasi sedunia. Jangan kalah dengan India dan China. Jangan hanya mampu menjadi `macan kandang`,” katanya.

Harga obat

Sementara itu, ditempat yang sama Menkes Siti Fadilah Supari menyatakan pemerintah telah menurunkan harga obat generik untuk meningkatkan keterjangkauan harga obat dan memperluas cakupan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

“Kebijakan obat murah dan berkualitas atau `obat serba Rp1.000 merupakan upaya menjamin ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat bagi masyarakat dalam rangka pengobatan sendiri,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga telah menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Apotik Rakyat untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat, sekaligus menggulirkan ekonomi rakyat dan mengurangi pengangguran.

Kepada perusahaan farmasi, Menkes meminta agar melakukan efisiensi dalam produksi dan distribusi obat-obatan.

“Di saat yang sama, peredaran obat palsu dan ilegal menjadi masalah yang harus dituntaskan oleh pemerintah dan GP Farmasi karena sangat merugikan masyarakat dan industri farmasi nasional,” katanya. (*)