Jakarta, – Menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) tidak hanya meliputi dunia IT saja. Dalam dunia farmasi, penghargaan terhadap HAKI bahkan sudah berjalan sejak lama, jauh sebelum gaung HAKI dikumandangkan di republik Indonesia ini. HKI dalam bidang farmasi ini tentunya menyangkut masalah obat palsu dan asli. Sejak 20 tahun lalu, perusahaan-perusahaan farmasi selalu memerangi keberadaan berbagai obat-obatan palsu. Hal inilah yang melatar-belakangi Microsoft dan Gabungan Pengusaha Indonesia (GPFI) untuk melakukan kerjasama dalam penggunaan aplikasi-aplikasi legal untuk perangkat komputer dalam industri farmasi di Indonesia. Kerjasama ini diumumkan pada tanggal 14 Maret 2007 di Hotel Atlit Century Park, Jakarta.

Melalui kerjasama ini, Asosiasi ini akan menghimbau anggotanya untuk menghargai aplikasi-aplikasi buatan Microsoft. Dengan menghargai HKI, mereka ingin agar perusahaan-perusahaan farmasi yang ada dalam payung asosiasi ini menjadi panutan bagi perusahaan lainnya dalam menghargai suatu produk dan turut mendukung program pemerintah untuk menegakkan Undang-Undang HKI no. 19/2002. “Untuk meningkatkan kualitas perusahaan, sudah saatnya kita menghindari penggunaan software bajakan dan menggunakan software asli sesuai Undang-Undang no 19/2002”, kata Antony CH. Sunarjo, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia. Microsoft sendiri tentunya amat senang mendapat kepercayaan dari GPFI ini untuk menggunakan produk-produk buatannya. Oleh karena itu, Microsoft memberikan harga khusus untuk anggota GPFI yang akan menggunakan produknya. Selain itu, Microsoft juga akan memberikan konsultasi Software Asset Management secara gratis. “Microsoft menghargai himbauan GPFI kepada anggotanya untuk menggunakan produk Microsoft”, ujar Irwan Tirtariyadi, Direktur SMS&P PT Microsoft Indonesia di tengah-tengah pengumuman kerjasama ini kepada para undangan.